Sabtu, 25 Juni 2011

Bisnis Rongsok, Mengapa Tidak?...

Mungkin bagi sebagian orang, tumpukan kertas bekas, besi tua, atau botol kosong adalah sampah rongsokan yang harus dibuang. Tetapi, ada sebagian orang justru menggantungkan hidup mereka dari barang yang rongsok. Bahkan, rongsokan pulalah yang mengubah nasib mereka.

Seperti apa yang dilakukan oleh Muh Roni (30 tahun) warga Campursalam, Kec. Parakan. Sudah 3 tahun ini dia menjalankan bisnis jual beli rongsokan. Hasilnya pun bisa dibilang lumayan. Selain bisa mencukupi kebutuhan keluarga, Muh Roni bisa menarik beberapa warga untuk ikut bekerja bersamanya.

Setelah lulus SMA, pria dengan 2 orang anak ini disuruh orang tuanya untuk meneruskan pekerjaan mereka sebagai petani. Namun dia tidak mau “Saya dulu dipaksa orang tua untuk meneruskan tradisi mereka menjadi petani, tetapi saya wegah macul”. Keadaan ini membuat dia harus berpikir dan berjuang lebih keras sebelum memutuskan untuk berkecimpung pada bisnis ini. Pada awalnya, dengan bermodalkan uang 1,5 juta dan sebuah “montor bukaan” Muh Roni berkeliling dari desa ke desa di wilayah Kab. Temanggung untuk mencari barang rongsokan “Pada bulan pertama, saya hanya bisa memutar 500 ribu tiap hari. Yah, memamg tergolong kecil sih, karena waktu itu saya hanya ditemani oleh dua orang teman saya keliling kampung untuk mencari barang”. Usaha ini terus berkembang hingga omset perhari bisa mencapai 3 juta pada tahun pertama. Hal ini bisa dia lakukan, selain sudah mengetahui daerah/pengepul barang rongsok, dia juga harus bisa menjalin hubungan baik dengan pembeli yang ada di daerah Solo dan Surabaya.

Bagi sebagian orang, bisnis rongsok memang dianggap usaha rendahan alias prestice-nya kurang. Namun, karena keadaan kepekso dan keinginan untuk mengubah nasib yang sangat kuat bisnis apapun asalkan halal bisa ditekuni. “Pada awal saya memulai usaha ini, sempat terjadi kisruh dengan orang tua. Mereka menganggap usaha yang saya jalankan ini tidak akan berhasil.” Namun, karena sangat yakin akan peluang bisnis ini, dia mampu membuktikan bahwa yang bisa menghasilkan sumber penghidupan bukan hanya sekedar jadi petani.

Pada perjalanan usaha sampai dengan tahun ke-3, karena banyaknya pemain baru di dunia usaha ini, dia menspesialisasikan usahanya untuk penggilingan limbah dari bahan plastik. Di samping persaingan bisnis usaha ini masih sangat terbuka, risikonya sangat kecil, dan margin keuntungan yang bisa didapat lebih tinggi dari pada hanya jual beli rongsokan. Butuh tambahan modal sekitar 188 juta untuk pengembangan usaha ini antara lain untuk pembelian truk, mesin giling dan pergudangan.

Untuk urusan tenaga kerja, awalnya Muh Roni mendatangkan 3 orang dari Cepu sebagai tenaga ahli, selain itu, dia mengikutsertakan beberapa orang saudaranya untuk ikut belajar bersama mereka. Dan kini, karena telah dirasa mampu, semua tenaga kerja diambil dari masyarakat sekitar yaitu 10 orang ditambah seorang sopir. Sampai dengan saat ini, omset usaha Muh Roni mencapai 5 – 6 juta perhari dengan margin keuntungan bersih sekitar 5% atau 250 – 300 ribu perhari. “Yah, lumayan Mas, dengan usaha ini saya bisa menghidupi keluarga saya, kerabat, dan masyarakat lain di desa ini.” Begitu tutur pria berpenampilan sederhana ini kepada Stanplat.

Oh ya, dari usaha yang dijalankan ini, warga sekitar juga ikut kecipratan rejeki. Sebelum plastik digiling dan dikeringkan, Muh Roni meminta bantuan warga sekitar untuk membersihkan dan memotong tutup kepala plastik yang akan diolah. Ongkos yang dikeluarkan adalah 800 rupiah/kilogram. “Yo lumayan, tiap hari saya dan istri saya dapat 30 kg mulai dari pagi hingga sore.” Tutur Subagyo (28 th).

Saat ini memang segala bisnis dapat dijalankan, namun sebagian besar masyarakat masih belum berani berspekulasi. Pertanyaan mereka hampir sama, bagaimana pertama kali memulianya. Untuk hal ini, Suami seorang Pegawai Pemda ini menuturkan “Selain harus berani menanggung resiko, para calon usahawan atau pemula harus menguasai informasi. Kunjungilah pengusaha sukses, minta petunjuk dari meraka. Rasa senang dan optimis dengan usaha yang akan dijalani juga harus senantiasa dijaga.”

Sebagai penutup kepada Stanplat di rumahnya dia menuturkan bahwa dia juga sangat senang jika ada orang yang mau berusaha terjun di bidang usaha yang sama. Jika ada orang yang ingin meminta informasi apapun, pasti akan sangat disambut dengan baik, dan nyaris semua informasi tidak ada yang disembunyikannya. Selain itu dia sering mendambakan agar masyarakat Temanggung mampu “berusaha” meskipun tidak punya lahan pertanian, dan modal yang berlimpah.

Dia juga sangat menyayangkan warga di sekitarnya yang merantau di luar daerah, dan di sana hidup sama susahnya. “Mbok mending tetep di kampung saja to, asal dia berani dan mau berusaha, Insya Allah ada jalannya.”

Seiring perkembangan jaman, usahanya kini juga berkembang dengan memanfaatkan limbah kayu pabrik untuk dibuat menjadi alat permainan edukatif (APE). Dengan demikian semakin lengkaplah dia untuk disebut sang tukang rongsok. Limbah kayu diambil dari pabrik-pabrik di sekitar kemudia diolah menjadi APE yang bisa dilihat pada toko Rumah Pintar. APE-APE yang dia produksi sangat aman digunakan karena menggunakan cat/pewarna nontoxic. APE yang diproduksi diperuntukkan bagi Balita, Playgroup, TK, BKB dan PAUD.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar